
“Hidupnya sunnah dalam kehidupan seorang hamba (itu) tanda bahwa semakin dekatnya ia dengan keridha’an rabbnya & syafa’at nabinya Shallallahu’alaihi wa sallam.
Maka,orang yang berpegang teguh dengan sunnah, dan menjauhi perkara-perkara baru dalam perkara agama yang telah Allah & Rosulnya tetapkan,inilah yang di harapkan dari seorang hamba sekaligus Ummat Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.”
Pernah suatu ketika Sa’id bin al-Musayyib melihat seseorang mengerjakan shalat pada waktu terlarang dengan sejumlah raka’at yang banyak. Beliau pun lantas melarangnya.
Maka orang itu menjawab menimpali: “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena aku mengerjakan shalat?!!
Beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi Allah akan mengadzabmu karena engkau menyelisihi sunnah.”
Al-Imam Al-Albani Rahimahullahu ta’alaa mengatakan :
“Ini diantara jawaban mengagumkan dari Sa’id bin al-Musayib. Dan itu merupakan senjata yang kuat dalam membantah pelaku bid’ah yang selalu saja menganggap baik banyak dari perkara kebid’ahan dan menuduh ahlus sunnah bahwa mereka mengingkari dzikir dan shalat. Padahal mereka (ahlus sunnah) hanyalah mengingkari penyelisihannya terhadap sunnah.”
Jika menambah suatu amalan dalam peribadatan adalah hal yang baik,maka tentulah kebaikan yang di tambah itu tidak akan mampu menolong pelakunya dari adzab yang akan menimpanya di hadapan Allah & Rosulnya kelak pada hari kiamat, sebab Allah ta’alaa mengatakan :
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينً
ا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
BarakAllahu Fiikum.